Rabu, 24 Desember 2014

PENAKLUKAN ISLAM DI EROPA
DALAM MEMPERLUAS KEKUASAANNYA
Oleh: Achmad Wahyudi

            Islam yang berkembang pesat di wilayah Arab dengan cara dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad serta beberapa peperangan yang terjadi sebelum ataupun sesudah Rasulullah SAW meninggal pada Senin 12 Rabiul Awal - 11 Hijriah, kemudian Agama Islam yang mempunyai julukan sebagai Agama Rahmatan Lil Alamin ini menjadi petujuk bagi mereka yang memilih jalan terbaik bagi kehidupannya, untuk petunjuknya terdapat di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist.
            Dalam penaklukan diluar Arab seperti yang ditulis oleh Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, bahwa penaklukan pertama kali dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar Ash- Shiddiq yaitu di Irak dan Persia, dalam penaklukan yang terjadi di Irak dan Persia Abu bakar tidak langsung menghabisi nyawa penduduk kedua wilayah tersebut. Tetapi beliau menyiapkan dua pasukan, pasukan yang pertama ialah di bawah pimpinan Khalid bin al-Walid, pasukan yang di bawah pimpinan Khalid saat itu berada di wilayah Yamamah, dengan surat yang telah di kirim oleh Abu bakar.  Khalifah pertama ini memberikan perintah kepada Khalid untuk memerangi Irak dari arah selatan, dimulai dari daerah Ubullah. Pasukan kedua yang pada saat itu di pimpin oleh ‘Iyadh bin Ghunum berada di desa Nibaj, desa tersebut berada di pertengahan Makkah dan Bashrah.[1] ‘Iyadh di perintahkan oleh Abu bakar untuk memerangi Irak dari arah timur laut, dari Mushayyakah, selain itu Khalid dan ‘Iyadh di perintahkan oleh Abu bakar agar bersikap lembut terhadap penduduk taklukan dan mengajak mereka memeluk Islam. Jika menolak Islam maka mereka harus membayar jizyah, dan jika menolak maka mereka diperangi.
          Penaklukan Muslim di Persia  merupakan konflik yang berujung pada jatuhnya Kekaisaran Sassaniyah pada tahun 644, keruntuhan dinasti Sassaniyah pada tahun 651 dan pada akhirnya kemunduran agama Zoroaster di Persia. Orang Arab pertama kali memasuki wilayah Sassaniyah pada tahun 633, ketika jenderal Khalid bin Walid menginvasi daerah yang kini disebut Irak. Seiring dipindahkannya Khalid ke front Romawi di Levant, kaum Muslim akhirnya kehilangan kekuasaan mereka akibat serangan balik Persia. Invasi kedua dimulai pada tahun 636 di bawah Saad bin Abi Waqqas, ketika suatu kemenangan kunci pada Pertempuran Qadisiyyah berujung pada berakhirnya kendali Sassaniyah di Persia barat secara permanen. Pegunungan Zagros kemudian menjadi penghalang alami antara Kekhalifahan Rasyidin dan Kekaisaran Sassaniyah. Akibat serangan terus-menerus oleh Persia terhadap daerah tersebut, Khalifah Umar memerintahkan dilancarkannya invasi penuh terhadap Kekaisaran Persia Sassaniyah pada tahun 642, yang selesai dengan penaklukan penuh Sassaniyah pada pertengahan tahun 644. Penaklukan cepat Persia dalam serangkaian serangan bercabang banyak yang terkoordinasi secara baik, diarahkan oleh Khalifah Umar dari Madinah ribuan mil dari medan perang di Persia, merupakan pencapaian terbesarnya, menjadikannya dikenal sebagai seorang ahli strategi politik dan militer yang piawai. Para sejarawan Iran berusaha untuk membela leluhur mereka dengan menggunakan sumber-sumber Arab untuk menunjukkan bahwa bertentangan dengan klaim beberapa sejarawan, bangsa Iran, pada kenyataannya, bertempur lama dan gigih melawan bangsa Arab yang datang menyerang. Setelah ditaklukan secara politik, bangsa Persia berusaha mempertahankan diri dengan cara menjaga bahasa dan kebudayaan Persia. Meskipun demikian, agama Islam akhirnya dianut oleh banyak orang, kemungkinan untuk alasan politik atau sosial-kultural, dan menjadi agama yang dominan[2].
            Abu Bakar yang pada saat itu menjadi Khalifa’ur Rasyidin pertama pada Rabiul awal 11 H hingga Jumadil Akhir 13 H dengan Prestasi yang di dapat dalam memimpin umat Islam harus meninggalkan umat Islam pada 22 Jumadil Akhir 13 H, kemudian pemerintahannya dilanjutkan oleh Umar bin Khaththab yang pada saat itu memiliki dua peristiwa besar berupa penaklukan yang bertujuan untuk memperluas wilayah Islam, adapun peristiwa penaklukannya ialah;
1). Penaklukan Wilayah-Wilayah Kekaisaran Byzantium (Syam). Dalam penaklukan di Wilayah Kekaisaran Byzantium terdapat beberapa peristiwa yang terjadi, antara lain:
            A. Perang Yarmuk (4 Rajab 12 H
            B. Penaklukan Damaskus
            C. Penaklukan Ajnadin
            D. Penaklukan Baitul Maqdis (Elia)
            E. Penaklukan Mesir (Awal tahun 20 H)
            F. Penaklukan Iskandariyah
2). Penaklukan Wilayah-Wilayah Kekaisaran Persia. Sedangkan penaklukan di wilayah kekaisaran Persia meliputi:
            A. Perang Namariq
            B. Perang Buwayb (Ramadhan 13 H)
            C. Perang Qadisiyyah
            Setelah melakukan penaklukan yang di pelopori oleh Abu Bakar dan Umar bin Khaththab, pada masa Khalifah Utsman juga melakukan penaklukan di Tripoli (647 M), Siprus (648 M), dan Pulau Rhodes (650 M)[3] setelah meninggalnya Khalifah Utsman dengan Prestasi yang dicapainya beliau kemudian pemerintahannya digantikan oleh Ali bin Abi Thalib pada  yang pada pemerintahan ini terdapat kerusuhan internal yang menyebabkan berhentinya ekspansi yang dilakukan oleh umat Islam.
            Konflik internal umat Islam ini dikenal dengan sebutan Perang Shiffin yang terjadi pada Muharram 37 Hijriah, saat itu Ali ingin mencopot Mu’awiyah dari jabatannya sebagai Gubernu di Syam. Namun Mu’awiyah menolak kebijakan yang dilakukan oleh Ali, dari kerusuhan yang terjadi pada umat Islam Ali yang saat itu masih menjabat sebagai Khalifah ke-4 meninggal dunia, lalu kepemimpinannya di gantikan oleh Hasan yang dibaiat yang tidak lain ialah putra Ali bin abi thalib pada Syawal 40 Hijriah.
            Tetapi untuk keutuhan umat Islam Pada 25 Rabiul Awal 41 H, Hasan menyerahkan jabatannya kepada Mu’awiyah.[4] Setelah Mu’awiyah dilantik menjadi Khalifah menggantikan Hasan, Mu’awiyah mendirikan dinasti Umayyah pada abad ke 662 M kemudian pendiri dinasti Umayyah ini melanjutkan ekspansi ke wilayah Timur, sehingga dapat menundukkan wilayah Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana, Samarkand, Sind, daerah Punjab, dan Mutlan. Sedangkan di Afrika Utara Mu’awiyah menaklukan Tunisia. Dalam perluasan yang dilakukan ke Barat pada masa Al- Walid bin Abd al-Malik (705-715), di bawah panglima Thariq bin Ziad pada tahun 711 M pasuukan menyebrangi selat dan mendarat di sebuah tempat, yang kemudian tempat tersebut dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal al-Tariq).
             Pada pertempuran yang terjadi tahun 711 M pasukan muslimin berhasil menurunkan raja Visigoth yang bernama Roderick di Teledo. Menjelang tahun 715 M, kota-kota penting di Sepanyol berhasil tunduk pada masa Dinasti Umayyah, adapun kota yang berhasil di taklukan ialah Narbonne di selatan Perancis, Seville, Malaga, Elvira, dan Cordoba.[5] Setelah peristiwa tersebut, Spanyol menjadi bagian dari wilayah kekuasaan umat Islam dan dikenal dengan sebutan Andalusia. Secara structural, spanyol berkedudukan sebagai sebuah provinsi dipimpin gubernur yang bertanggungjawab secara langsung kepada gubernur Afrika Utara di Cairouan, Tunisia.[6] Pertemuan yang terjadi tersebut yang mengawali interaksi ekonomi,politik, dan budaya antar masyarakat Eropa Kirsten dan Islam.
            Dalam kemajuan yang sedang di rasakan oleh umat Islam pada masa Dinasti Umayyah yaitu luasnya wilayah kekuasaan kaum muslimin, terdapat perseteruan internal antar faksi politik yang terus berkembang sehingga dinasti Umayyah berkuasa. Dalam kemajuan Dinasti Umayyah yang sedang melonjak pesat tersebut muncul kekuatan Dinasti Abbasiyah yang pada akhirnya mampu menggoyang kedudukan Dinasti Umayyah sebagai penerus Khalifa’ur Rasyidin. Hal ini berakibat pada berpindahnya pusat pemerintahan dari Damaskus ke Baghdad. Pemindahan Damaskus ke Baghdad tersebut di lakukan oleh pendiri Dinasti Abbasiyah yaitu Abu Abbas as-Saffah dan al-Manshur pada 570 M, atau lebih tepatnya pada masa kepemimpinan Abu Ha’far al-Manshur.
            Selama tujuh Abad (VII- XV) sejak peristiwa pertarungan politik antara Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah di wilayah Eropa, peradaban Islam di Spanyol mentransmisikan kebesarannya ke penjuru Eropa.[7]



 [1] Qasim A. Ibrahim dan  Muhammad A. Saleh, Buku Pintar Sejarah Islam. Jakarta:Zaman,  
     2014, hlm. 112.

 [2]  http://id.wikipedia.org/wiki/Penaklukan_Muslim_di_Persia di akses pada 22/12/2014, 19:30 WIB

 [3] Desvian Bandarsyah dan Laely Armiyati.2014,Sejarah Eropa 1,Jakarta: Mitra Abadi ,hlm 36.

 [4] Qasim A. Ibrahim dan  Muhammad A. Saleh, Op.Cit.hlm. 232.

 [5]  Ajat Sudrajat, Perang Salib dan Kebangkitan kembali Ekonomi Eropa. Yogyakarta: Leutika,
      2009, hlm. 25.

 [6]   Montgomery watt, Islam dan Peradaban Dunia. Jakarta: Gramedia. 1997, hlm. 11.


 [7]   Desvian Bandarsyah dan Laely Armiyati.Op.Cit ,hlm 37.

1 komentar: